Jumat, 08 Juli 2011

Biarkan Angin Tetap Ada

Bila esok tak lagi ku sambut mentari pagi
Bila esok tak lagi ku jemput langit berseri
Dan bila esok tak lagi ku temui pelangi
Mungkin aku telah pergi
Tak kembali
Tapi ingatlah satu hal yang pasti
Angin kan tetap ada disini
Menemani hari-hari bumi
Bersemayam di hati
•••●○●•••
Ruangan ini semakin ku rasakan pengap. Tak nyaman lagi. Entah karena aku bosan terlalu lama disini sendiri. Atau lebih karena wangi obat-obatan dan cairan alcohol yang begitu menyengat hidung. Atau mungkin karena aku merasakan kelelahan yang teramat sangat dengan pikiranku sendiri ketika ingin membenamkan berbagai peristiwa yang ku alami hari ini dalam ingatanku yang tak sempurna.

“Terkadang aku takut memejamkan mata di malam hari. Aku takut bila terbangun di esok pagi, aku mendapati kenyataan-kenyataan yang begitu asing bagiku.” Lirihku sambil menatap nanar sosok bayangan yang terpantul di kaca.

Tampaknya malam ini hujan akan kembali menyapa. Langit begitu hitam pekat. Tak satu pun bintang bermunculan disana. Bulan pun tak hadir. Awan mendung rata merajai di angkasa. Huft…

Ku raih sebuah buku bersampul biru yang tergeletak di atas meja kecil disamping ranjang. Lembar demi lembar ku buka perlahan. Mencoba tuk resapi deretan kata-kata yang tertulis di atasnya. Tinta warna hitam yang menghias kertas putih itu tertata rapih. Teratur. Mataku terpaku pada lembar ketiga di buku itu. Tertanggal 22 Januari 2011

… Sore tadi aku jalan-jalan di taman. Suster Nay yang biasa menjagaku, tidak menemaniku. Ia harus menghadap dr. Syafa untuk melaporkan catatan medisku. Dan jadilah aku sendiri, duduk di taman sepi menikmati matahari yang perlahan menghilang di balik rimbun pohon flamboyan. Tadinya ku pikir akan bosan melewati waktu senja sendiri. Namun ternyata aku salah. Aku justru bertemu dengan seseorang. Kaze,namanya…

•••●○●•••

“Hai gadis manis. Sedang apa kau disini?” suaranya terdengar begitu renyah.

“Aku sedang menunggu.” Jawabku tanpa mengalihkan pandangan.

“Menunggu waktu senja berakhir?” Sontak pertanyaan itu mengagetkanku.

“Bagaimana aku tahu tentang itu?” Ku tatap sesosok lelaki yang sedari tadi duduk di sampingku.

“Karena itu juga yang sering ku lakukan.” Ia tersenyum.

Sejenak kuperhatikan senyum yang mengembang di bibirnya. Matanya cokelat bulat memiliki sorot tajam, namun menedukan.

“Rasanya aku mengenal lelaki ini” Seruku dalam hati. Tapi siapa dia? Dimana kau mengenalnya? Kapan? Lalu muncullah pertanyan beruntun dalam otakku.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku merasa tak asing denganmu.” Ragu aku mengungkapkannya.

“Hmm… mungkin pernah. Suatu waktu.” Jawabnya dengan tenang. “Siapa namamu?”

“Aku, Angin. Orang-orang memanggilku Angin.” Sahutku penuh semangat. “Kamu siapa?”

Dia kembali tersenyum. “Seperti namamu, kau angin yang menyejukkan. Panggil aku Kaze.”

•••●○●••• 

Tetes-tetes embun masih menempel di kaca, saat ku buka tirai penutup jendela. Aroma wangi tanah yang bercampur sisa rembesan air hujan semalam langsung memenuhi rongga dada, begitu ku geser sebuah pintu yang terbuat dari kaca itu. Hujan memang selalu meninggalkan jejak khas disetiap kehadirannya. Dan aku selalu menyukai itu. Aku selalu mencoba menafsirkan bekas tanda yang diisyaratkannya.

“Kurasa hujan semalam ingin mengabarkan berita baik tentang hati ini.” Ucapku riang.

Fajar terlihat malu-malu menampakkan dirinya. Bersembunyi di gumpalan kabut pagi hari. Seperti enggan menyapa penghuni bumi yang siap menapaki tiap helai-helai baru di waktu yang menyambut. Berbeda dengan hawa angin saat ini. Sejuk. Lembut. Menyemangati hari.

Waktu telah menunjukkan pukul 05.15. namun langit masih terlihat gelap.

“Meski semua yang ku hadapi tampak asing di memoriku, tapi aku tahu satu hal. Sudut ini lah yang selama ini membantu ku mengingat apa yang selalu aku rasa saat mengagumi pesona semesta.” Gumamku sendiri.

Purnama diwaktu subuh menggantung dengan indah di ufuk timur. Dengan santainya dia bertengger di bingkai kelam bersama satu bintang yang terang. Nuansa sunyi balkon tempat aku bediri saat ini mendukung pagelaran alam yang menakjubkan. Tak tergantikan.

•••●○●•••

Hingga akhirnya matahari merajai puncak singgahsananya, aku masih betah sendiri. Duduk si sebuah kursi yang terbuat dari anyaman rotan. Angin yang membelai pori-pori kulit menerbangkan debu peluh ke wajah, menyadarkanku. Kosong.

Ternyata, tak banyak perubahan berarti yang terjadi padaku. Justru aku semakin merasa tak mengenali apapun yang terjadi di sekitarku. Aku bahkan sering bertanya pada diriku sendiri, “Untuk apa aku berada disini?”

Ya. Pertanyaan itu kadang muncul begitu saja. Melintas dalam benakku ketika tak ada satu pun yang ku pikirkan. Dan ketika itu terjadi, otakku seperti mencoba membongkar puluhan ribu dokumen yang tertumpuk di dalamnya.

Butuh beberapa lamanya untukku temukan jawabannya. Entah mengapa aku begitu kesulitan saat melakukannya. Mencari sebuah alasan dari lembar-lembar masa lalu yang menyebabkanku tampak seperti orang asing disini. Tempat yang menurutku terlalu aneh untuk dijadikan sebagai hunian yang nyaman dengan aroma khas zat-zat kimia yang menyengat di setiap sudutnya.

Lalu saat semuanya menjadi jelas dihadapanku. Seperti cahaya lilin di tengah-tengah sebuah ruangan yang gelap. Meski temaram, tapi cukup memberi penerangan. Itupun yang ku rasa. Hanya tersenyum getir yang dapat ku lakukan untuk sebuah keberhasilan memecahkan pertanyaan klise itu.

Karena suatu hal aku berada disini. Karena sesuatu yanag mungkin tak banyak orang mengalaminya. terdapat masalah dalam system sarafku yang dikenal dengan nama Alzaimer.

•••●○●•••
Ini kelima kalinya aku melewati suasana sore dengan Kaze di taman rumah-ku ini. Sejak pertemuan pertama kali yang terjadi 2 pekan yang lalu. Seingatku itu adalah senja yang penuh kejutan. Berawal dari kemunculannya secara tiba-tiba. Lalu tentang kebiasaanku setiap matahari akan tenggelam yang ternyata Kaze juga suka melakukan itu. Kemudian berlanjut dengan perbincangan hangat yang mengalir begitu saja. Seakan kami telah mengenal satu sama lain sebelumnya.

Aku semakin merasa yakin bahwa kami pernah bertemu, dulu. Tapi, aku sama sekali tak bisa mengingatnya juga, seberapapun kerasnya aku mencoba mengingat, tak ada hasil yang memuaskan. Selalu percuma.

Aku kembali melontarkan pertanyaan yang sama seperti diawal kami bertemu. “Aku sungguh merasa tak asing denganmu. Apakah dulu kita pernah saling mengenal sebelumnya?”

Kaze hanya tersenyum.

Aku bingung. Aku sangat yakin bahwa aku pernah dekat dengannya. Namun, sekali lagi. Keyakinan itu tak cukup mampu tuk membuka ingatanku yang tersumbat. Aku semakin bertambah heran, ketika Kaze dengan santainya menceritakan semua hal yang dia ketahui tentangku. Bahkan kebiasaanku menatap langit saat pagi hari pun sepertinya sudah berada di luar kepalanya.

“Siapa kau sebenarnya, Kaze?” Aku larut dalam duniaku sendiri. Semakin lama. Semakin dalam. Hingga lantunan sebuah syair yang dinyanyikan Kaze membuyarkan lamunanku.

“sebuah kisah yang terlahir. Bolehlah ku ingat-ingat. Saat kita bersama… bercanda tertawa…”

Syair itu… sepertinya aku mengenal syair itu. Tapi…??

Tanpa menghiraukan keterkejutanku akan hal yang baru saja ku dengar, Kaze tetap melanjutkan memetik gitarnya dan asyik bersenandung dengan lagu yang sangat familiar di telingaku.

“Begitu banyak cerita ku ingin akhir bahagia. Walaupun esok nanti….” Sejenak Kaze menghentikan jarinya bermain dengan gitarnya. Hening.

”Ku berdoa semoga kita kan bersama…” Refleks aku melanjutkan syair lagu yang terhenti itu. Meluncur begitu saja. Tanpa ada proses berfikir sebelumnya. Seolah-olah aku mengerti itu bait yang harus ku nyanyikan.

Namun bukan hanya aku yang shock akan situasi yang tengah terjadi. Kaze pun tak kalah kaget.

“Kau ingat lagu itu?” Gurat di wajahnya Nampak tak percaya.

“Aku hanya merasa lagu itu seperti sudah melekat erat di benakku.” Jawabku singkat.

Kami pun lalu bersama-sama menyanyikan lagu itu kembali. Menyenangkan. Itu yang ku rasa.

•••●○●•••

Semuanya seolah bisa ku ingat seketika. Semuanya. Kenangan-kenangan tentang kisah ku dulu sebelum aku di vonis mengidap penyakit ingatan ini. Aku terpukul saat perlahan memori itu terulang dalam otakku seperti sebuah film dokumenter yang di putar ulang.

Adalah sebuah liontin yang berinisial DA yang ku temukan tersimpan di laci, yang mengingatkanku.. kalung cantik itu yang pernah ku miliki. Hadiah ulang tahunku yang ke-15. Pemberian Kaze. Lalu aku seakan keluar dari gulita. Cahaya benderang terangi ingatanku yang gelap.

Tentang ketidakmampuanku menyimpan memori di otak. Tentang frustasiku menerima kenyataan ini, hingga meninggalkan satu-satunya orang yang ku miliki, kakak kandungku yang tak lain adalah Kaze.

Belum usai keterkejutanku akan kembalinya kumpulan data yang menyimpan cerita masa laluku, seseorang masuk ke kamarku. Terengah-engah dia berbicara, “Angin. Ka…Kaze. Dia…Kaze meninggal.”

Sontak, liontin yang berada dalam genggamanku terjatuh ke lantai menimbulkan suara gemerincing.

Kemudian mengalirlah kronologis sebuah kecelakaan dini hari kemarin. Yang terjadi di persimpangan jalan di depan gedung berlantai 4 ini. Kecelakaan antara sebuah minibus dengan sepeda motor. Pengemudi sepeda motor itu tak lain adalah Kaze, terluka sangat parah.

“Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Kaze menitipkan surat ini untukmu.” Seseorang berseragam putih-putih itu menyerahkan sebuah amplop berwarna jingga padaku.

Tanganku gemetar menerimanya. Ku buka lalu ku baca surat itu.

 Angin lembutku yang manis -Diandra Aditya-
Di hari ini, hari yang selalu kau nanti (semoga kau mengingatnya) aku ingin memberimu sesuatu yang dulu sangat kau inginkan. Maafkan aku yang baru bisa menyelesaikannya sekarang. Semoga kau tersenyum senang dengan hadiah ini.
Kaze yang selalu ada bersamamu –Damara Aditya-
•••●○●•••

Tiga hari belakangan hujan terus mengguyur bumi dari langit senja. Muram. Tak ada acara menjamu alam seperti sore-sore sebelumnya. Tak ada lembayung jingga di ufuk barat. Kelam. Semuanya tampak dipenuhi kabut.

Menatap butiran Kristal air yang turun berirama dari balik pintu kaca selebar 1x2m. hatiku dihinggapi rasa rindu. Rindu yang teramat pada sosok Kaze. Sosok yang beberapa minggu terakhir selalu menemani sisa waktu sebelum malam menjelang. Sosok yang selama ini aku yakini begitu dekat denganku bahkan sebelum pertemuan 22 Januari lalu. Dan sosok itu kini menghilang. Kaze telah pergi meninggalkanku sendiri.

Namanya adalah Damara Aditya. Itulah nama Kaze yang sebenarnya. Sama seperti namaku, Diandra Aditya. Ya. Aditya memang nama belakang aku dan Kaze, seharusnya aku menyebutnya kakak. Begitu seharusnya. Tapi aku terlambat menyadarinya.

Sebuah naskah dengan judul ‘Menari Bersama Angin’ tergeletak lusuh di pangkuanku. Beberapa lipatan menghias di permukaannya., karena genggaman tanganku yang terlalu kencang meremasnya.

“Kak, aku akan membuat sebuah pementasan drama. Kakak bersedia membantuku menyusun naskahnya? Aku menjadi Angin, peran utama dalam cerita itu.” Percakapan satu tahun silam menggema di telingaku.

“Hmm, kalau kamu menjadi Angin, maka aku adalah Kaze, sang angin pula. Kita akan sama-sama menjadi angin dalam cerita yang akan kita buat.” Ucap Kaze kala itu, bersemangat.

Aku terenyuh dalam alam bawah sadarku. Melayang ke masa silam, saat masih bersama Kaze. Mengingatnya selagi aku masih mampu. Dan bila nanti suatu saat aku kembali kehilangan ingatanku, aku tak perlu cemas memikirkannya. Karena dia adalah bagian dari jiwaku.

Angin dan Kaze. Kami sama. Aku akan tersenyum seperti yang selalu dia lakukan.. mungkin aku melupakannya dalam pikiranku.. Aku tahu Kaze akan selalu ada dan tetap ada di dekatku.

“Biarkan angin tetap ada. Meski raganya telah tiada.” Desahku pada angin lain yang sedang berhembus di dimensi biruku.[MR_3.3.11_23:07]

•••●○●•••

Antara Diya dan Dhiya

Antara Diya dan Dhiya, ada jarak yang terbentang.
Antara Diya dan Dhiya, ada sejarah yang terukir.
Antara Diya dan Dhiya, ada luka yang tertoreh.
Antara Diya dan Dhiya, ada bahagia yang terselip.

Antara Diya dan Dhiya, tidaklah sama.
Antara Diya dan Dhiya, sungguhlah berbeda.
Antara Diya dan Dhiya, sebuah perbedaan dalam kesamaan.

Antara Diya dan Dhiya, dua kisah tercipta.
Antara Diya dan Dhiya, dua cerita tersuguhkan.
Antara Diya dan Dhiya, menjadi satu dalam jiwa.

Antara Diya dan Dhiya, begitu banyak airmata tercurah.
Antara Diya dan Dhiya, tak sedikit senyum terkembang.
Antara Diya dan Dhiya, senyum berbaur dalam airmata.

Lalu antara Aku, Diya dan Dhiya, seuntai rasa hadir.
Terlahir dari pencarian ketulusan hati yang mencoba memaknai apa itu cinta.




15:25
3.7.11

Jumat, 24 Juni 2011

Aku, Sendiri, Menangis

detik ini.

disaat waktu terus berlalu.

tanpa memperdulikan apa yang terjadi di sekitarnya.

aku seorang diri.

menatap nanar ke sebuah layar persegi.

deretan kata terangkai.

hanya sederhana.

namun, entah apa yang ku rasa.

aku menangis.

dan masih sendiri.

jangan tanyakan mengapa.

karena aku tak tahu.

jangan hibur aku.

karena aku tak sedang bersesdih.

aku hanya menangis.

aku sendiri dalam diam hati merintih.

aku sendiri dalam sunyi suara hati.

lalu aku menangis sendiri.

dalam pilu yang kembali memenjarakan diri dalam jeruji gudang memori.





21.6.11
12.03

Satu Yang Pertama

Satu yang pertama.

bahagia.

itu yang kurasa.



Satu yang pertama.

penuh cerita.

itu yang ku cipta.



Satu yang pertama.

untuk selamanya.

itu yang kudamba.



...



kau yang pertama bagiku.

aku yang pertama untukmu.

kau dan aku yang pertama.



...



pertama dalam hidupku mengalaminya.

pertama dalam hidupmu menjalaninya.

kitalah yang pertama.



...



jika memang bukan yang pertama,

hiraukanlah.

pun bila bukan yang pertama,

tak masalah.

karena bagiku pertama hanyalah sebagai permulaan.

karena yang terpenting adalah terakhir, untuk selamanya...




10.6.11
11.11

Hanya Untukmu

untukmu yang kini telah menyentuh hatiku.

untukmu yang kini telah menemukan kunci hatiku.

untukmu yang kini telah membuka pintu hatiku.

untukmu yang kini telah mengisi ruang kosong di hatiku.

untukmu yang kini telah mebobati luka pedih menyayat di jiwaku.

untukmu yang kini telah menjadi penawar rasa gelisah di malam-makamku.

untukmu yang kini telah menghapus sunyi dari hari-hariku.

untukmu yang kini telah mengubah airmata menjadi tawa.

untukmu yang kini telah mengganti duka menjadi bahagia.

untukmu yang kini telah merajai ranah kerajaan imajinasi.

untukmu yang kin telah mengajari arti ketulusan memberi.

untukmu yang kini telah menemani diri yang sepi.

untukmu yang kini telah membasuh kecewa dengan senyuman.

...

hanya untukmu akan ku persembahkan segala yang terindah.

karena hanya untukmu aku ada...



13.6.11
11.39

Mendung di Dalam Mega

Aku adalah Mega. Segumpal awan hitam di hamparan langit. Yang tak pernah bersinar dan tak pernah menangis.

Aku adalah Mega. Selalu mendung. Selalu sendiri. Dan namaku adalah Mega.

~***~

Hari ini, tepat di hari ulang tahunku yang ke-17. Aku melewatinya seperti hari-hari biasa. Tak ada ucapan selamat ataupun acara potong kue. Mungkin bagi orang lain, saat seperti ini adalah saat terindah. Saat bersenang-senang dengan teman untuk menikmati ingahnya kehidupan remaja. Tapi bukan cerita itu yang ku jalani saat ini. Bukan pula masa seperti itu yang ku rasa selama ini. Menurutku, setiap hari adalah sama. Tak ada yang berbeda. Sweet Seventeen-ku tak berarti. Bahkan bisa di katakan menyedihkan.

Hingga di usiaku yang ke-17, aku tak punya sahabat. Teman pun tak ada. Yang aku punya hanyalah seorang ibu, itupun kau tak merasakan kehadirannya. Dan, seseorang yang dulu pernah mewarnai kisahku, tapi kini dia telah pergi jauh. Meninggalkan aku hingga ke alam sana.

Dan lagi-lagi aku sendiri. Karena kau adalah Mega. Mega yang kelabu.

~***~

Matahari bersinar seperti biasanya. Dan sinarnya yang terik mengisahkan ia selalu bahagia. Tak seperti diriku saat ini. Tak bersinar. Cahayaku redup diantara cahaya-cahaya yang lain.

Kini aku sedang duduk sendiri di sudut ruang kelas. Aku tak dapat berkutik dari keadaan seperti ini. Aku seakan terpenjara dalam duniaku. Sendiri. Sehingga aku tak bias terbang bebas merasakan indahnya dunia yang lain.

Aku hanya bisa memandang semua yang terjadi disekitarku dari titik dimana aku berada saat ini. Aku malihat di sudut depan kelas, sekelompok siswi sedang asyik membicarakan sesuatu. Entah itu tentang fashion atau tentang gossip terbabu di sekolah ini. Sementara itu, di sudut yang lain, beberapa siswa tengah bernyanyi riang menyanyikan lagu-lagu populer.

Dan tuk kesekian kalinya. Aku sendiri. Sendiri di tengah keramaian. Semuanya ku rasa tak ada disini. Mati. Karena sekali lagi. Aku adalah Mega. Yang tak ditemani mentari.

~***~

Tak seperti hari-hari biasanya. Untuk kali ini aku merasa tak menjadi mega. Tapi aku adalah awan putih di tengah-tengah kilau sang surya.

Aku bahagia karena hari ini aku mendapat pujian dari banyak orang, saat pelajaran Seni Budaya.

“Penjiwaan yang bagus, Mega. Kembangkan bakar seni yang adda dalam dirimu. Ibu yakin suatu saat nanti kamu akan menjadi pemain teater yang hebat.” Kata guru Seni Budayaku setelah aku selesai memainkan peran dalam pementasan teater sebagai tugas akhir semester.

“Mega, kamu keren banget. Aku suka.” Sahut Rea dengan nada antusias.

“Waah! Sepertinya kamu punya bakat jadi pemain teater yang terkenal, Mega. Akting kamu luar biasa.” Ujar Syisha tak mau kalah member pujian. Karena ia memang sangat mengerti tentang dunia pementasan dan akting.

Mendengar begitu banyak ucapan manis untukku, aku tersipu. Pipiku mungkin merah merona saat ini.

Untuk pertama kalinya aku sangat bahagia. Inikah indahnya hidup yang sesungguhnya? Ketika kita bisa bersama dengan teman-teman. Ketika aku bukanlah Mega yang tak bersinar.

~***~

Ternyata, kebahagiaan yang baru beberapa hari aku rasakan, kini tak tersisa. Sedikitpun tidak. Semuanya lenyap. Kehidupanku kembali seperti biasanya. Berwarna kelabu.

Sehari setelah acara pementasan terater yang penuh pujian, teman tak ada yang mengajakku bermain bersama. Mereka sibuk denagn dunianya masing-masing. Aku seakan tak ada di tempat dimana aku menghabiskan waktu lebih dari 7 jam dalam sehari.

Warna hangat kebersamaan yang beberapa waktu ku alami berubah menjadi suasana hening. Dan aku kembali menjadi Mega. Mega yang tak berwarna.

~***~

Setelah hampir 1 tahun aku menghuni kelas ini. Menjalani hari-hari dengan para penghuni yang lain. Ku kira mereka sudah mengerti diriku. Tapi aku salah menerka. Mereka sama sekali belum memahami perasaanku. Aku kecewa.

“Hai Mega! Aku dengar, kamu anak brokenhome ya? Ayahmu mati dalam kecelakaan mobil karena saat mengendarai mobil, Ayahmu bertengkar hebat dengan Ibumu soal perselingkuhan yang dilakukan Ayahmu dengan adik Ibumu, akhirnya terbongkar!?” Ucap Resti ketika aku baru memasuki kelas.

Aku merasa anak-anak yang lain menertawakanku. Seolah kisah pahit hidupku itu sebuah lelucon yang lucu. Suami selingkuh dengan iparnya sendiri!? Huft… lucu sekali.

Anak yang lain pun ada yang ikut menyahut perkataan Resti yang tadi, “Wooou, keren! Bisa-bisanya seorang suami main serong dengan adik kandung istrinya. Kalau aku sih ya, malu banget tuh punya bapak yang kelakuannya seperti itu. Mau taruh dimana mukaku ini?!?. Hhahaha.”

Aku semakin kecewa karena tak satu pun dari mereka yang dapat bersikap bijaksana. Semuanya masih asyik tertawa. Menertawakan diriku ajuga keluargaku.

Kali ini, Mega berubah menjadi hujan lebat. Aku menangis. Lebih tepatnya menangisi crita hidupku yang kelam.

~***~

Aku pikir peristiwa memalukan saat itu akan terlupakan dengan sendirinya oleh anak-anak. Layaknya hembusan angin lalu yang sesaat. Lenyap dan pergi begitu saja. Namun kembali aku salah menilai. Mereka bahkan semakin menjauh dariku. Mereka masih saja memperbincangkan kenyataan pahitku.

Aku yang selama ini diam, mulai terjadi gemuruh di hatiku. Aku meronta pada diriku sendiri. Aku tak bias berbuat apa pun. Aku benci keadaanku yang seperti ini. Aku marah. Hingga saat ini aku tak lagi sebagai awan hitam. Tapi telah menjelma menjadi kilatan petir.

~***~

Lama sudah aku mencoba tak memperdulikan sikap mereka padaku. Lebih baik aku menjadi mega. Mega yang tak bersinar seperti mentari. Ataupun mega yang berubah menjadi hujan lebat disertai kilatan petir.

Andai saja mereka mengerti. Tak selamanya air itu tenang. Tak selamanya angin itu lembut. Jika saja mereka nemahami air tenang dapat berubah menjadi gelombang tsunami besar yang dapat menelan ribuan jiwa. Angin lembut dapat berubah menjadi badao dahsyat yang bisa menerbangkan segala sesuatu yang ada di dekatnya.

Tapi mereka tak mengerti. Meraka tak mau memahami. Mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri. Selalu memikirkan hidupnya. Dan selalu mementingkan dirinya sendiri. Uh…! Aku tak tahu isi kepala mereka.

Andai ku bisa merasakan kebahagiaan. Andai ku tak terbelenggu. Terkurung dalam diriku sendiri. Ingin kurasakan arti sebuah ketulusan bersahabat. Saling berbagi cerita dan saling mengerti.

Sayangnya, aku adalah Mega. Tak bisa menjadi pelangi yang berwarna. Apalagi menjadi mentari yang bersinar terang. Karena aku tetap Mega. Dan di dalam Mega ada mendung yang setia menemani, mengisi lembaran buku kehidupan Mega.[MR_19.3.09_21:06]

Sabtu, 11 Juni 2011

Bantu AKu

Bantu aku ...
Terkadang aku terlalu buta
Untuk melihat kenyataan yang terhampar di hadapan mataku.

Bantu aku ...
Terkadang aku terlalu tuli
Untuk mendengar bisikan-bisikan di sekitarku.

Bantu aku ...
Terkadang ak terlalu bisu
Untuk mengungkapkan keinginan hatiku.

Bantu aku ...
Tuntun aku ...
Ajari aku ...
Bantu aku tuk memahami apa yang trjadi di sekelilingku.

Jumat, 10 Juni 2011

Cinta Kita : Sang Anaphalis javanica

Cintaku...
Laksana bunga edelweis,
Sang Anaphalis javanica, tumbuh di puncak-puncak gunung yang sulit terdaki.
Begitupun cinta kita yang penuh perjuangan dan pengorbanan demi merengkuh bahagia bersama.

Cintaku...
Laksana bunga edelweis,
Sang Anaphalis javanica yang putih, halus, dan lembut,
begitupun cinta kita yang suci lagi tulus.

Cintaku.
Laksana bunga edelweis,
Sang Anaphalis javanica yang tiada pernah layu meski jatuh dan terberai dari tangkainya, begitupun cinta kita yang abadi dan tiada pernah mati.




[dikutip dari Alamendah's Blog dengan sedikit perubahan]

Dialog Hati dan Pikiran #4

...

"Bukankah hidup itu bahagia? Bagaimana jika bahagiaku belum termaknai?"

Apa yang kamu pikirkan? kau anggap hidupmu belum bahagia?

"Bukan begitu maksudku."

Lalu mengapa kau berfikir seperti itu?

"Aku yakin aku telah bahagia dengan duniaku saat sekarang. Tapi bagainama jika bahagiaku bukan bahagia orang-orang disekitarku? Aku ingin mereka ikut bahagia denganku."

Hei! lihat dengan matamu! Buka hatimu. Mereka ada denganmu untuk bahagia bersama.

"Oooh, benarkah?"

Iya. Kau terlalu sibuk denagn duniamu sendiri hingga kau tak menyadainya.

"Hmmm, Kalau begitu baiklah. Aku tak akan ragu lagi. Aku kini tak merasa gelisah lagi. Terimakasih."

Yaa. Kembali kasih.

...



08.06.11
09:52

Edelweis



Setangkai edelweis yang kau beri padaku

Hadiah termanis yang pernah ku terima

Kuntum bunga pertamaku dari seseorang

Bunga keabadian, orang-orang menyebutnya

Semoga cerita indah dihidupku pun abadi

Bahagia, Selamanya

...


_Terimakasih telah menepati janjimu_



08.06.11
09:33

Bintangku ... #3

Bintangku yang paling bersinar,

Kidung lagu rindu ku dendangkan.
Di malam-malam yang menjelajah waktu.
Denting irama merdu mengalun dari hati.
Bercerita aku dalam diam sendiri.
Tentang kisahmu.
Tentang Bintangku.

Berpuluh purnama berlalu meninggalkan.
Dan gelap masih setia memelukku.

Belum mampu ku yakinkan diri.
Meraba kepastian arti hadirmu di duniaku.
Karena yang ku lihat kini,
keindahanmu hanya menari-nari dalam dimensi khayalku



05.06.11
19:03

Bintangku ... #2

Bintangku yang paling bersinar,

Terkadang aku rindu dekat denganmu.
Rindu akan terang cahayamu.
Kala gulita melanda, banyang cemerlangmu seolah hadir
Membius alam inajinasi.

Bingkai malam yang menaungimu
Semoga senantiasa menjaga rupa mempesonamu.

Bila nanti kudapati diri telah siap.
Tunggu aku.
Aku akan menjemputmu dan membawamu.
Ke dalam ruang hati yang penuh cinta untukmu.
Bintangku ...



04.06.11
20.04

Selamat Tinggal Cinta Pertama

"...... ku tulis ini saat tersedih

menunggu dirimu yang tak bersalah

terpisahkan karna keadaan


selamat tinggal cinta pertama

mengisi waktu ku, memberi rasa

tak terlupakan



tak mudah ungkapkan dengan hati

saat senyum dan tangis menyatu

tapi ini terbaik untukku dan untuk dirimu


hanya waktu yang mampu mengerti

betapa berat perpisahan ini

semoga cerita cinta ini

menjadi kenangan indah nanti



pelukan ini untuk dirimu

adalah pelukan dari hatiku

terakhir kali



hanya waktu yang mampu mengerti

betapa berat perpisahan ini

semoga cerita cinta ini

menjadi kenangan indah nanti ......"




usai ku nyanyikan lagu "selamat tinggal cinta pertama". ada rasa yang tak menentu hadir menggelayuti diri. entah apa gerangan.

telah ku lewati bertahun-tahun waktu yang berlalu. dengan airmata. dengan kepedihan. dengan penuh kesetiaan. tak pernah aku sesali. karena aku mengerti ini hanya cerita yang pasti kan berakhir. dan inilah saatnya.

selamat tinggal tinggal cinta pertama.

kau kini telah bahagia dengan yang lain, aku pun akan bahagia dengan dunia baruku. dunia baru tanpa dirimu, tanpa rasa itu. karena aku muncul dengan jiwa yang kembali putih.

aku yang kini sendiri, tak lagi menangis karena rindu. karena rindu telar sirna bersama angin yang membawamu pergi menjauh dariku. aku yang kini sendiri, tak lagi merintih karena perih. karena perih telah musnah bersama pelagi yang membuatku tersenyum.

selamat tinggal cinta pertama.

aku menyimpan kenangan itu dlam album biruku.
ku simpan bersama semua memori tentangmu.

selamat tinggal cinta pertama.

aku kini akan menjemput cinta baruku. dengan pintu hati yang terbuka lebar untuk menyambut bahagia yang telah menantiku idi ujung jalan ini.

selamat tinggal cinta pertama...



07.06.11
20.03

Sabtu, 21 Mei 2011

Rintih Rindu untuk Bintangku ( Estrella de Felize)

Puluhan malam sunyi ku lewati.
Hanya untuk menantimu.
Berharap paras indahmu kan ku jumpai, lagi.
Bermimpi agar pesonamu damaikan tidur gelisah.
Ketika suatu detik seolah terhenti.
Menginjakkan fakta di gudang memori.
Terhanyut aku dalam kekosongan.
Hampa.
Yang lalu membawaku melayang.
Membumbung tinggi.
Mengangkasa di jagad imajinasi.
Aku sendiri dalam gelap.
Samar kerlip terangmu hadir di sudut gulita.
Menjadi pelita temaniku.
Aku merasakan cahaya dalam hati.
Benderang menghapus kelam.
Hanya sesaat saja.
Perlahan kau menghilang di telan sang waktu.
Perlahan jejakmu menjauh dariku.
Perlahan meredup hingga akhirnnya padam.
Mati.
. . .
Singkat cerikaku bersamamu.
Teramat singkat.
Aku pun belum sempat abadikan kenangan-kenangan kita.
Bahkan, mengukir kisah dalam klamku pun tidak sempat.
Kau telah lenyap.
Kau Pergi.
. . .
Meski begitu,
Biarlah.
Serpihan sinarmu masih ku simpan dalam diam jiwaku.
Karena kau tetaplah bintangku.
Bintang biruku.
Bintang kebahagiaanku.
Estrella de Felize.


18.04.11
18.47

Pangeran kecilku

Pangeran kecilku,
Jangan bermasam muka.
Tertawalah.
Lihatlah rembulan.
Menghujanimu dengan cahayanya.
Bermainlah dengan jiwamu.
Bawalah ia menari.
Menyanyi.
Dendangkan lagu ceriamu.

Pangeran kecilku,
Jangan berdiam diri.
Berlarilah.
Raih anganmu.
Gapai mimpimu.
Bintang setia menanti.
Dengan sinar terangnya.
Tunjukkan paras rupawanmu.
Hadapkan di muka dunia.

Pangeran kecilku,
Jangan bersedih hati.
Tetaplah tersenyum.
Percayalah akan keajaiban.
Putri idaman dalam khayalmu,
Pasti kan kau temukan.
Jika kau tak menyerah pada waktu.
Benteng rintangan dapat kau robohkan.
Yakinlah pada dirimu.

Pangeran kecilku,
Jangan bermuram durja.
Aku tak ingin kau begitu.
Karena kau pangeran kecilku.
Pangeran kecilku tersayang.
Pangeran kecilku yang teristimewa.



19.05.11
22.09

Jumat, 20 Mei 2011

Cinta Seorang Akhwat


Disini. Di bumi cinta. Benih-benh kasih sayang tumbuh subur. Bunga-bunga kebahagiaan mekar aneka warna. Langit keridhoan Ilahi membentang. Pohon-pohon kesetiaan rindang menghijau. Pilar-pilar kepercayaan kokoh menopang surau; tempat menuai madu. Sungai mengalir mengairi ladang yang gersang. Terkadang hawa amarah melingkupi. Terkadang debu kecemburuan beterbangan. Terkadang badai perselisihan melintas. Sesaat benderang meneranagi gelap dalam sendiri. Sesaat gulita memeluk dalam kekecewaan. Apapun yang terlewati. Apapun yang terjadi. Terkumpul jadi satu. Terekam dalam album memori. Dan semua kisah di bumi cinta akan menjadi cetita tersendiri di hati para pecintanya.
---oOo---
Waktu menunjukkan pukul 19.29 WIB, dan hujan masih saja setia mengguyur bumi sejak satu jam yang lalu. Sesekali kilatan petir memantul dari kaca jendela yang masih terbuka. Wangi melati yang tersiram titik-titik air, menyeruak. Menusuk hidung.

Ku tatap lekat sebuah buku yang tergeletak diatas meja. Beberapa baris kalimat yang ada dalam buku itu, masih terngiang dalam benakku.

“… teman baik, teman yang membantumu untuk menjadi orang baik. Teman sejati yang bisa kau ajak bercinta untuk surga. Dia adalah teman sejati yang benar-benar mau berteman dengan mu, bukan karena derajatmu. Tapi karena kemurnian cinta itu sendiri, yang tercipta dari keikhlasan hati. Dia mencintaimu karena Allah. Dengan dasar itu, kaupun bisa mencintainya dengan penuh keikhlasan; karena Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuatan dahsyat yang membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu juga akan bersinar dan membawa kalian masuk surga …”

Kalimat-kalimat itu seolah membiusku. Membuatku terpana saat menyusuri tiap deret demi deret kata, perlahan. “Dia mencintaimu karena Allah.“, dalam hati aku kembali mengeja kalimat itu. Ada desiran halus meraba hati.

“Mencintai karena Allah.“, terus saja batinku membisikkannya. Apa itu mencintai karena Allah? Bagaimana caranya? Bisakah aku melakukannya? Beberapa rangkaian pertanyaan muncul dalam benakku. Ketika aku merenungkannya, ada kedamaian yang menyusup dalam diri. Tenang. Lalu aku pun mulai terbuai dalam dunia imajinasiku. Sepi dan sendiri.

---oOo---
Ternyata malam telah memasuki arena pekatnya, saat dering di handphone berbunyi. Lalu membuyarkan lamunanaku. Di layar handphone tertera tulisan ‘ In memoriam, 29.05.2005’.
“Huft… ini waktunya.“, lirihku sendiri.

Sunyi sudah membungkam dunia. Remang bulan bercahaya di balik lipatan gumpalan kabut. Suara jangkrik yang bertaburan ke penjuru ruang seperti sentuhan lembut musikus klasik.

Bertahun-tahun yang lalu, saat aku baru mengenal tentang cinta. Seorang pemuda datang padaku. Menawarkan padaku untuk terbang menjelajahi bumi cinta. Merasakan manisnya berbagi kasih saying. Tapi, aku masih terlalu awam. Dan ku pukir ini belum saatnya bagiku untuk menyelami lebih dalam tentang cinta.
Puluhan purnama telah terlewati. Dalam diam tanda tanya, kebimbangan masih menyelimuti diriku.

“Yaa Rabb, bila aku salah tafsirkan rasa yang muncul di hati, mohon terangkanlah. Bila aku salah artikan debu-debu yang menghias di kalbu, mohon jelaskanlah. Bila aku salah terjemahkan bahasa yang tersirat di jiwa, mohon benarkanlah. Karena sungguh sepenuhnya aku menyadari, akalku tak mungkin bisa sempurna menggapai rahasia di balik tabir nuansa yang hadir indah menyusup di detik-detik yang ku lalui. Mohon tunjukkan padaku yang sebenarnya. Agar tak salah saat aku ingin mengukir rona-rona elok itu di kalamku. “

---oOo---
Semakin aku melihat cinta dunia, semakin aku tak ingin merasakannya. Walau tak ku pungkiri, cinta dunia itu bukanlah hal yang selalu negative. Tapi, entah. Aku meragu pada adanya substansi ketulusan dalam cinta dunia yang diagung-agungkan oleh kebanyakan orang. Aku memang belum mempunyai pengalaman dengan hal semacam itu, tapi kenyataan yang disuguhkan di hadapanku cukup menjadi landasan mengapa aku berpendapat seperti ini.

Mungkin bagi sebagian orang yang telah menjalin sebuah kenangan dengan cinta dunia, mereka beranggapan bahwa apa yang aku pikirkan adalah sesuatu yang dinilai picik. ~aku menyimpulkan sesuatu hanya dari secuil cerita-cerita yang dibawakan cinta dunia~ Tapi, tak salah bukan jika persepsiku demikian?

Terkadang, terbesit di benakku sebuah pertanyaan klise. Apakah mereka telah mengerti hakikat dari cinta itu sendiri? Ironis. Disaat sebagian menilai cinta itu indah, namun beberapa diantaranya justru sakit terluka karena cinta yang mereka rasa. Adakah mereka berfikir, landasan apa yang menjadi cinta dunia itu? Bukannya sebuah alasan.
Aku tak bias munafik, jika sesekali muncul hasrat untuk mencicipi cinta dunia. Tetapi ada cinta lain yang lebih ingin aku gapai. Cinta yang tak membawa dendam dalam kekecewaan. Cinta yang tak menyisakan kesedihan dalam air mata. Cinta yang tak terkontaminasi oleh debu-debu nafsu. Cinta yang ketika ia hadir di hatiku, maka dapat dengan mantap aku katakana “ Uhibbuka Yaa Rabby…”, Aku mencintaimu karena Allah…
Itulah cinta yang aku damba …

---oOo---
Sepenggal kisah tercatat dalam sejarah. Sepenggal kenangan terangkum dalam jiwa. Dan sepenggal cinta tersimpan dalam hati. Sebuah kisah selalu berganti tema ceritanya. Ada bahagia maupun lara. Sebuah kenangan selalu memberi kesan tersendiri. Kesan terindah ataupun kesan menyedihkan. Namun sebuah cinta akan selalu hadir memberi warna di kehidupan.

Dengan sejarah kita belajar dari masa lalu. Dengan jiwa kita mengerti makna kehidupan. Dan dengan cinta kita mendapat semangat untuk tegar menjalani hari esok. Karena cinta sumber inspirasi.

Seiring putaran detik, banyak cerita mengalir di hidupku. Semuanya berjalan alami tanpa pernah ku pikirkan sebelumnya. Mungkin inilah scenario yang telah dipersiapkan Tuhan untukku.

“Kita telah sama-sama dewasa. Kau dan aku bukan lagi seorang anak remaja yang labil. Melainkan kita telah bisa merangkai berbagai makna dari semua peristiwa yang telah kita lalui.” Ucap Rhieuhal lembut ketika tanpa sengaja aku bertemu dengannnya pada acara seminar di salah satu hotel ternama di kota Cirebon.

“Lama waktu yang berlalu diantara kita membuat semuanya berubah.” Jawabku dengan pandangan tertunduk.

“ Tapi tidak dengan hatiku. Aku masih menunggumu, Shafa.” Tegas Rhieuhal.

Sungguh sebenarnya aku merasa terkejut saat itu. Setelah beberapa tahun dia menghilang, kami tiba-tiba dipertemukan kembali, tepat 5 tahun setelah Rhieuhal mengungkapkan perasaannya padaku untuk pertama kali.

Dan kereta waktu terus melaju. Sedikit demi sedikit keresahan kembali hadir mengusik hari-hariku. Sepenggal keraguan mencekam sendi-sendi pendirianku. Mimpi-mimpiku semakin sarat akan hadirnya Rhieuhal dalam alam bawah sadar. Itu membuatku termakan ketakutan-ketakutan yang membinasakan ketenangan hati yang selama ini ku jaga.

“Yaa Allah, inikah saat yang telah Engkau persiapku untukku?”

Aku menghela nafas panjang. Perlahan. Meresapi tiap udara yang memenuhi rongga dada. Angin malam semakin dingin ku rasakan. Menusuk tulang.

---oOo---
Satu nama memang telah terukir di dinding kalbuku. Satu nama yang menjadi penghias di ruang rinduku. Satu nama yang memberi warna pada kanvas jiwa yang pilu. Satu nama yang walau telah bertahun-tahun singgah di hati, namun masih sulit bagiku untuk mengejanya. Satu nama cinta pertamaku, Rhieuhal Damara.

Setelah berulang kali aku lakukan dialog antara hati dan pikiran, agar dapat aku simpulkan dari berbagai kebimbangan yang mengusik hari-hariku. Malam ini, dlam kedewasaan rasa aku mantapkan diri. Aku merasakan sebuah debaran di relung sukma. Getarnya lembut bak ombak kecil di lautan jiwa. Mengalun perlahan membelai hangat nafas. Aku ingin abadikan ruh suci atas kemurnian kasih dalam kematangan cahaya iman.

“Ya Rabb, penguasa seisi hati. Izinkan aku mencintainya atas dasar cinta fitrahku padaMu. Mohon petunjuk dan bimbinganMu agar aku tak berlebih. Bila aku khilaf atas semua ini, maka cukupkanlah ampunanMu yang akan menyelamatkanku dari jurang kenistaan hasrat semu.” Doaku dalam hati.

Esok ketika mentari telah merambah dimensi pagi, akan ku utarakan perasaan ini pada Rhieuhal. Aku tak akan menyia-nyiakan penantiannya yang setia padaku selama ini.

---oOo---

Jumat, 15 April 2011

Hadiah Kecil Untukmu

Bismillahirrahmanirrahim....


Hari ini,
Dihari teristimewa untukmu
Dengarkanlah senandung dari hati yang merdu
Ketika langit padi menyuguhkan kilau terindahnya
Ketika mentari biaskan cahata jingga nan keemasan
Ketika udara bawakan wangi aroma khas dunia
Bernyanyilah ...
Seperti saat dulu kau bernyanyi untukku
Bernyanyilah lagu bahagia bersamaku
melewati hati melintasi jiwa
Panjatkanlah pengharapan ...
Seperti saat dulu kita bersama melakukannya
Panjatkanlah pengharapan mulia bersamaku
Mengukir di hati membekas di jiwa
Dan di hari yang teristimewa ini
Meski tak ku jumpai ragamu
Ku persembahkan penggal-penggal bait sederhana
Sebagai hadiah kecil untukmu

. . . . .



06:19
05.04.11

Angel & Demon

Ketika ku ayunkan kaki menuju gerbang
Hampir saja aku menyerah
Saat sayap iblis menawarkanku terbang menikmati sudut timur langit
Bisikkannya sempat membuatku goyah
Lalu datang malaikat membawa pendar kilau pelangi dari arah barat langit
Memberi sentuhan warna-warna berseri di hati yang nyaris mati
Keyakinanku semakin kuat
Aku kan tetap meniti jalan yang telah ku pilih
Karena ku tahu itulah yang terbaik untuk semua



16:56
04.04.11

Mawar Tetaplah Mawar

Mawar merah yang dulu ku petik di permulaan pagi
Masih menyimpan rasa yang sama
Meski bertahun-tahun waktu telah meninggalkannya
Hingga membuatnya tampak menghitam
Mawat tetaplah mawar

Lembar-lembar buku yang mendebu
Telah setia menjaganya

Tak lagi seharum, dulu
Tak lagi berduri tajam

Namun mawar tetaplah mawar
Meski kelopaknya kini mengering
Gurat-gurat kecantikannya masih terlihat jelas
Memancarkan kelembutan

Dan ia tetaplah mawarku
Mawarku yang dulu
Kerena mawar tetaplah mawar




07:21
28.03.11

Sesaat

Sesaat kau bawa aku terbang menuju langit
Sesaat kemudian kau hempaskan aku begitu saja

Sesaat kau beri aku beribu kuntum bunga
Sesaat kemudian kau tusukkan duri tajamnya padaku

Sesaat kau ajak kau dalam terang cahaya
Sesaat kemudian kau tinggalkan aku dalam gelap sendiri

Sesaat kau buat aku tertawa bahagia
Sesaat kemudian kau buat aku menangis sedih

Sesaat kau begitu dekat denganku
Sesaat kemudian kau begitu kauh ku rengkuh

Sesaat saja
Tak lama
Hanya sesaat

. . .




14:38
26.03.11